MAKALAH PENGENDALIAN VEKTOR
BIONOMIK NYAMUK AEDES AEGEPTY
Dosen mata kuliah : Indah Werdiningsih
SKM, M.Sc
Disusun
oleh :
1. Tri
Endarwati Arum Sari (P07133114081)
KEMENTERIAN
KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK
KESEHATAN KEMENKES YOGYAKARTA
JURUSAN
D III KESEHATAN LINGKUNGAN
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa atas segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini.
Saya ucapkan terimakasih atas bantuan,
bimbingan, dan arahan kepada semua pihak yang telah membantu, antara lain :
·
Ibu
Indah Werdiningsih, SKM, M.Sc selakudosen pengampu mata kuliah pengendalian
vektor- A
·
Orang
tua yang telah mendukung
·
Semua
pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per Satu
Kami selaku penyusun menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami mengharap kritik
dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan makalah kami selanjutnya dari
semua pihak.
Kami berharap makalah yang kami susun
ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Dan semoga,ilmu yang kami peroleh ini
dapat kami terapkan dalam kehidupan. Aamiin.
Yogyakarta, 14 Juni
2015
penyusun
KATA
PENGANTAR……………………………………….............. i
DAFTAR
ISI……………………………………………..................... ii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang..……………………….……............................. 1
B. Rumusan Masalah………………………………….……......... 1
C. Tujuan Penulisan
..………………………………………......... 1
BAB II. PEMBAHASAN
BAB II. PEMBAHASAN
A. Pengertian
Nyamuk Aedes Aegepty.......................................... 2
B.
Ciri Morfologi
Nyamuk Aedes Aegypty..…………..………… 2
C.
Bionomik Nyamuk Aedes Aegypty............................................ 5
D. Pengendalian Nyamuk Aedes Aegepty ...................................... 6
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan ………………….……………………….................. 7
B. Saran............................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA
………………………..………………………… 8
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penyakit atau wabah demam berdarah yang
menarik perhatian dunia untuk pertama kali muncul di Manila pada tahun 1954.
Untuk sebagian kasus demam berdarah banyak sekali terjadi di negara-negara yang
terletak pada daerah tropis dan subtropis, oleh karena itu tidak mengherankan
apabila nyamuk sebagai perantara virus dari penyakit ini menyukai lingkungan
yang hangat untuk hidup.Daerah
tropis yang merupakan tempat favorit untuk hidup dari nyamuk.
Pembawa virus dari penyakit Demam
Berdarah adalah nyamuk aedes aegypti. Cara penyebaran virus demam berdarah
melalui nyamuk aedes aegypti yang menggigit seseorang yang sudah
terinfeksi terlebih dahulu oleh virus demam berdarah. Virus ini akan terbawa
oleh nyamuk melalui kelenjar ludahnya. Setelah itu nyamuk aedes
aegypti yang sudah terinfeksi akan menggigit orang yang sehat, dan
bersamaan dengan terhisapnya darah dari orang yang sehat tadi maka virus demam
berdarah tersebut juga akan berpindah ke orang tersebut dan menyebabkan
orang sehat tadi terinfeksi virus
demam berdarah.
Nyamuk aedes aegypti atau
yang sering disebut juga nyamuk demam berdarah ini memiliki siklus hidup yang
berbeda dengan nyamuk biasa. Nyamuk demam berdarah ini aktif dari pagi hari
hingga sekitar jam 3 sore untuk menghisap darah
korbannya yang berarti juga dapat menyebarkan virus demam berdarah. Sedangkan
pada malam hari nyamuk ini akan tidur, maka berhati-hatilah terhadap
gigitan nyamuk pada siang hari dan sebisa mungkin cegahlah nyamuk ini menggigit
anak yang sedang tidur di siang hari.
Kebiasaan dari nyamuk aedes aegypti ini adalah
senang berada di genangan air yang bersih dan di daerah yang banyak pepohonan
seperti di taman atau kebun sekitar rumah. Bahkan mungkin kita tidak akan
menyadari bahwa genangan air pada pot bunga di rumah kita menjadi salah satu
tempat favorit dari nyamuk aedes aegypti atau nyamuk demam berdarah.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apakah pengertian Aedes Aegypti?
2.
Bagaimana ciri morfologi nyamuk aedes aegypti
3.
Bagaimana bionomik nyamuk aedes
aegypti
4.
Bagaimana cara pengendalian vektor
C. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian nyamuk Aedes
Aegepty
2. Mengetahui ciri morfologi nyamuk
Aedes Aegepty
3. Mengetahui bionomik nyamuk Aedes
Aegepty
BAB
II
PEMBAHASAN
- Pengertian Aedes Aegypti
Aedes aegyptimerupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus dengue penyebab penyakit demam
berdarah. Selain dengue, A. aegypti juga
merupakan pembawa virus demam kuning (yellow fever)
dan chikungunya. Penyebaran jenis
ini sangat luas, meliputi hampir semua daerah tropis di seluruh dunia. Sebagai
pembawa virus dengue, A. aegypti merupakan pembawa utama
(primary vector) dan bersama Aedes
albopictus menciptakan siklus persebaran
dengue di desa dan kota. Mengingat keganasan penyakit demam berdarah, masyarakat harus mampu mengenali dan mengetahui cara-cara mengendalikan
jenis ini untuk membantu mengurangi persebaran penyakit demam berdarah.
- Ciri Morfologi Nyamuk Aedes Aegypti
Nyamuk Aedes aegypti dewasa memiliki
ukuran sedang dengan tubuh berwarna hitam kecoklatan, memiliki kaki panjang dan
merupakan serangga yang memiliki sepasang sayap sehingga tergolong pada ordo
Diptera dan family Culicidae. Tubuh dan tungkainya ditutupi sisik dengan garis-garis putih
keperakan. Di bagian punggung (dorsal) tubuhnya tampak dua garis melengkung vertikal di bagian kiri dan kanan
yang menjadi ciri dari spesies ini. Sisik-sisik pada tubuh nyamuk pada umumnya
mudah rontok atau terlepas sehingga menyulitkan identifikasi pada nyamuk-nyamuk
tua. Ukuran dan warna nyamuk jenis ini kerap berbeda antar populasi, tergantung
dari kondisi lingkungan dan nutrisi yang diperoleh nyamuk selama perkembangan.
Nyamuk jantan dan betina tidak memiliki perbedaan dalam hal ukuran nyamuk
jantan yang umumnya lebih kecil dari betina dan terdapatnya rambut-rambut tebal
pada antena nyamuk jantan. Kedua ciri ini dapat diamati dengan mata
telanjang.Tubuh nyamuk terdiri atas tiga bagian yaitu kepala, dada dan perut.
Nyamuk memiliki sepasang antena berbentuk filiform berbentuk panjang dan
langsing serta terdiri atas 15 segmen. Antena dapat digunakan sebagai kunci
untuk membedakan kelamin pada nyamuk dewasa. Antena nyamuk jantan lebih lebat
daripada nyamuk betina. Bulu lebat pada nyamuk jantan disebut plumose sedangkan
pada nyamuk betina yang jumlahnya lebih sedikit disebut pilose .
Proboscis merupakan bentuk mulut modifikasi untuk menusuk. Nyamuk betina
mempunyai proboscis yang lebih panjang dan tajam, tubuh membungkuk serta
memiliki bagian tepi sayap yang bersisik. Dada terdiri atas protoraks,
mesotoraks dan metatoraks. Mesotoraks merupakan bagian dada yang terbesar dan
pada bagian atas disebut scutum yang digunakan untuk menyesuaikan saat terbang.
Sepasang sayap terletak pada mesotoraks. Nyamuk memiliki sayap yang panjang,
transparan dan terdiri atas percabangan-percabangan (vena) dan dilengkapi
dengan sisi. Abdomen nyamuk tediri atas sepuluh segmen, biasanya yang terlihat
segmen pertama hingga segmen ke delapan, segmen-segmen terakhir biasanya
termodifikasi menjadi alat reproduksi. Nyamuk betina memiliki 8 segmen yang
lengkap. Seluruh segmen abdomen berwarna belang hitam putih, membentuk pola
tertentu dan pada betina ujung abdomen membentuk titik (meruncing).
3. Bionomik Nyamuk Aedes Aegypti
Bionomik vektor
meliputi kesenangan tempat perindukan nyamuk, kesenangan nyamuk menggigit,
kesenangan nyamuk istirahat, lama hidup dan jarak terbang:
Tempat perindukan
nyamuk biasanya berupa genangan air yang tertampung disuatu tempat atau bejana.
Nyamuk Aedes tidak dapat berkembangbiak digenangan air yang langsung
bersentuhan dengan tanah. Genangannya yang disukai sebagai tempat perindukan
nyamuk ini berupa genangan air yang tertampung di suatu wadah yang biasanya
disebut kontainer atau tempat penampungan air bukan genangan air di
tanah.Survei yang telah dilakukan di beberapa kota di Indonesia menunjukkan
bahwa tempat perindukan yang paling potensial adalah TPA yang digunakan sehari
–hari seperti drum, tempayan, bak mandi, bak WC, ember dan sejenisnya. Tempat
perindukan tambahan adalah disebut non-TPA, seperti tempat minuman hewan,
vasbunga, perangkap semut dan lain-lainnya, sedangkan TPA alamiah seperti
lubang pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, kulit kerang,
pangkal pohon pisang, potongan bambu, dan lain-lainnya.
Nyamuk Aedes
aegypti lebih tertarik untuk meletakkan telurnya pada TPA berair yang berwarna
gelap, paling menyukai warna hitam, terbuka lebar, dan terutama yang terletak
di tempat-tempat terlindungsinar matahari langsung.Tempat perindukan yang ada
di dalam rumah yang paling utama adalah tempat-tempat penampungan air: bak
mandi, bak air WC, tandon air minum,tempayan, gentong tanah liat, gentong
plastik, ember, drum, vas tanaman hias,perangkap semut, dan lain-lain.
Sedangkan tempat perindukan yang ada di luar rumah (halaman): drum, kaleng
bekas, botol bekas, ban bekas, pot bekas, pottanaman hias yang terisi oleh air
hujan, tandon air minum, dan lain-lain.
Nyamuk Aedes hidup
di dalam dan di sekitar rumah sehingga makanan yang diperoleh semuanya tersedia
di situ. Boleh dikatakan bahwa nyamuk Aedes aegypti betina sangat menyukai
darah manusia (antropofilik). Kebiasaan menghisap darah terutama pada pagi hari
jam 08.00-12.00 dan sore hari jam 15.00-17.00. Nyamuk betina mempunyai
kebiasaan menghisap darah berpindah-pindah berkali-klali dari satu individu ke
individu yang lain. Hal ini disebabkan karena pada siang harimanusia yang
menjadi sumber makanan darah utamanya dalam keadaan aktif bekerja/bergerak
sehingga nyamuk tidak dapat menghisap darah dengan tenang sampai kenyang pada
satu individu. Keadaan inilah yang menyebabkan penularan penyakit DBD menjadi
lebih mudah terjadi.Waktu mencari makanan, selain terdorong oleh rasa lapar,
nyamuk Aedes juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu bau yang dipancarkan
oleh inang,temperatur, kelembaban, kadar karbon dioksida dan warna. Untuk jarak
yang lebih jauh, faktor bau memegang peranan penting bila dibandingkan dengan
faktor lainnya.Sedangkan nyamuk Aedes Albopictus betina aktif di luar ruangan
yang teduh dan terhindar dari angin. Nyamuk iniaktif menggigit pada siang hari.
Puncak aktivitas menggigit ini bervariasi tergantung habitat nyamuk meskipun
diketahui pada pagi hari dan petang hari.
3) Kesenangan nyamuk istirahat
Kebiasaan istirahat
nyamuk Aedes aegypti lebih banyak di dalam rumah pada benda-benda yang
bergantung, berwarna gelap, dan di tempat-tempat lain yang terlindung. Di
tempat-tempat tersebut nyamuk menunggu proses pematangan telur. Setelah
beristirahat dan proses pematangan telur selesai, nyamuk betina akanmeletakan
telurnya di dinding tempat perkembangbiakannya, sedikit di ataspermukaan air.
Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu ± 2 hari setelah
telur terendam air. Setiap kali bertelur nyamuk betina dapat mengeluarkan telur
sebanyak 100 butir. Telur tersebut dapat bertahan sampai berbulan-bulan bila
berada di tempat kering dengan suhu -2ºC sampai 42ºC, danbila di tempat tersebut
tergenang air atau kelembabannya tinggi maka telur dapat menetas lebih cepat .
4) Lama hidup
Nyamuk Aedes
Aegypti dewasa memiliki rata-rata lama hidup 8 hari. Selama musim hujan, saat
masa bertahan hidup lebih panjang, risiko penyebaran virus semakin besar.Dengan
demikian, diperlukan lebih banyak penelitian untuk mengkaji survival alami
Aedes Aegypti dalam berbagai kondisi
Untuk dapat memberantas nyamuk Aedes Aegypti
secara efektif diperlukan pengetahuan tentang pola perilaku nyamuk tersebut
yaitu perilaku mencari darah, istirahat dan berkembang biak, sehingga
diharapkan akan dicapai Pemberantasan Sarang Nyamuk dan jentik Nyamuk Aedes
Aegypti yang tepat .Perilaku tersebut meliputi :
a) Perilaku Mencari Darah
1.
Setelah kawin,
nyamuk betina memerlukan darah untuk bertelur
2.
Nyamuk betina
menghisap darah manusia setiap 2 – 3 hari sekali
3.
Menghisap darah
pada pagi hari sampai sore hari, dan lebih suka pada jam 08.00 – 12.00 dan jam
15.00 – 17.00
4.
Untuk mendapatkan
darah yang cukup, nyamuk betina sering menggigit lebih dari satu orang
Jarak terbang nyamuk sekitar 100 meter
Setelah kenyang menghisap darah, nyamuk betina perlu istirahat sekitar 2 –
3 hari untuk mematangkan telur. Tempat istirahat yang disukai :
1. Tempat-tempat yang lembab dan kurang terang, seperti kamar mandi, dapur.
2. Di dalam rumah seperti baju yang digantung, kelambu, tirai.
3. Di luar rumah seperti pada tanaman hias di halaman rumah.
c) Perilaku berkembangbiak Nyamuk aedes aegypti bertelur dan berkembang biak di tempat penampungan air bersih seperti:
c) Perilaku berkembangbiak Nyamuk aedes aegypti bertelur dan berkembang biak di tempat penampungan air bersih seperti:
1.
Tempat penampungan
air untuk keperluan sehari-hari :bak mandi, WC, tempayan, drum air, bak menara(
tower air) yang tidak tertutup, sumur gali.
2.
Wadah yang berisi
air bersih atau air hujan: tempat minum burung, vas bunga, pot bunga, potongan
bambu yang dapat menampung air, kaleng, botol, tempat pembuangan air di kulkas
dan barang bekas lainnya yang dapat menampung air meskipun dalam volume kecil.
4. Pengendalian Vektor
Pemberantasan
nyamuk Ae. aegypti bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian
penyakit demam berdarah dengue hingga ke tingkat yang bukan merupakan masalah
kesehatan masyarakat lagi. Cara yang hingga saat ini masih
dianggap paling tepat untuk mengendalikan penyebaran penyakit demam berdarah
adalah dengan mengendalikan populasi dan penyebaran vektor. Program yang sering
dikampanyekan di Indonesia adalah 3M, yaitu menguras, menutup, dan mengubur.
o
Menguras bak mandi, untuk memastikan
tidak adanya larva nyamuk yang berkembang di dalam air dan tidak ada telur yang
melekat pada dinding bak mandi.
o
Menutup tempat penampungan air
sehingga tidak ada nyamuk yang memiliki akses ke tempat itu untuk bertelur.
o
Mengubur barang bekas sehingga tidak
dapat menampung air hujan dan dijadikan tempat nyamuk bertelur.
Ada beberapacara lain untuk
pemberantasan nyamuk Aedes Aegypti diantaranya :
a. Pengasapan
(Fogging)
Pengasapan atau fogging dengan
menggunakan jenis insektisida misalnya, golongan organophospat atau pyrethroid
synthetic (Supartha,2008). Contohnya, malathion dan fenthoin, dosis yang dipakai adalah 1
liter malathion 95% EC + 3 liter solar. Pengasapan dilakukan pada pagi antara jam 07.00-10.00 dan sore antara jam 15.00-17.00 secara serempak.
Penyemprotan dilakukan dua siklus dengan interval 1 minggu. Pada penyemprotan pertama,
semua nyamuk yang mengandung virus dengue (nyamuk infentif) dan nyamuk lainnya
akan mati. Penyemprotan kedua bertujuan agar nyamuk baru yang infektif akan
terbasmi sebelum sempat menularkan kepada orang lain. Dalam waktu singkat,
tindakan penyemprotan dapat membatasi penularan, akan
tetapi tindakan ini harus diikuti dengan pemberantasan terhadap jentiknya agar
populasi nyamuk penular dapat tetap ditekan serendah – rendahnya. Pemberantasan nyamuk dewasa tidak dengan menggunakan cara penyemprotan
pada dinding (residual spraying) karena nyamuk Ae.aegypti tidak suka hinggap
pada dinding, melainkan pada benda-benda yang tergantung seperti kelambu dan
pakaian yang tergantung.
b. Repelen
Repelen, yaitu bahan kimia atau
non-kimia yang berkhasiat mengganggu kemampuan insekta untuk mengenal bahan
atraktan dari hewan atau manusia. Dengan kata lain, bahan itu berkhasiat mencegah nyamuk hinggap dan menggigit.
Bahan tersebut memblokir fungsi sensori pada nyamuk. Jika digunakan dengan benar,
repelen nyamuk bermanfaat untuk memberikan perlindungan pada individu pemakainya dari
gigitan nyamuk selama jangka waktu tertentu (Kardinan,2007).
Nyamuk dalam mengincar mangsanya lebih mengandalkan daya cium dan panas tubuh calon korbannya.
Daya penciuman itulah yang menjadi target dalam menghalau nyamuk.
Salah satu cara yang lebih ramah
lingkungan adalah memanfaatkan tanaman anti nyamuk (insektisida hidup pengusir
nyamuk). Tanaman hidup pengusir nyamuk adalah jenis tanaman
yang dalam kondisi hidup mampu menghalau nyamuk. Cara penempatan tanaman ini bisa diletakkan di sudut-sudut ruangan dalam
rumah, sebagai media untuk mengusir nyamuk. Jumlah tanaman dalam ruangan tergantung luas ruangan.
Sementara, untuk penempatan diluar rumah / pekarangan sebaiknya diletakkan dekat pintu,
jendela atau lubang udara lainnya,
sehingga aroma tanaman terbawa angin masuk ke dalam ruangan. Contoh tanaman anti nyamuk
yang gampang ditemui antara lain: Tembelekan (Lantana camera L),
Bunga Tahiayam atau Tahi Kotok (Tagetes patula), Karanyam (Geraniumspp), SerehWangi
(Andropogonnardus/ Cymbopogonnardus), Selasih (Ocimumspp), Suren (Toonasureni,
Merr), Zodia (Evodiasuaveolens, Scheff), Geranium (Geraniumhomeanum, Turez) dan
Lavender (Lavandulalatifolia,Chaix).
c. Teknik Serangga
Mandul (TSM)
Radiasi dapat dimanfaatkan untuk
pengendalian vektor yaitu untuk membunuh secara langsung dengan teknik
desinfestasi radiasi dan membunuh secara tidak langsung yang lebih dikenal
dengan Teknik Serangga Mandul (TSM), yaitu suatu teknik pengendalian vektor
yang potensial, ramah lingkungan, efektif, spesies spesifik dan kompatibel
dengan teknik lain. Prinsip dasar TSM
sangat sederhana, yaitu membunuh serangga dengan serangga itu sendiri (autocidal
technique). Teknik Jantan Mandul atau TJM
merupakan teknik pemberantasan serangga dengan jalan memandulkan serangga jantan.
Radiasi untuk pemandulan ini dapat menggunakan sinar gamma, sinar X atau neutron,
namun dari ketiga sinar tersebut yang umum digunakan adalah sinar gamma.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Nyamuk Aedes merupakan ordo Diptera mempunyai
1162 spesies. Aedes Aegypti merupakan vektor demam berdarah Dengue. Aedes
Aegypti selain vektor demam berdarah dengue (Dengue Hemorrhagic Fever) adalah
demam dengue (Dengue Fever) yang dikenal sebagai Cikungunya (Break Bone Fever).
Ciri khas yang membedakan Aedes Aegypti adalah strip putih yang terdapat pada
bagian skutumnya. Skutum Aedes Aegypti berwarna hitam dengan dua strip putih
sejajar di bagian dorsal tengan yang diapit oleh dua garis lengkung berwarna
putih. Nyamuk termasuk serangga yang mengalami metamorfosis sempurna
(holometabola). Tahapan yang dialami oleh nyamuk yaitu telur ,larva, pupa, dan
dewasa. Bionomik vektor meliputi kesenangan tempat perindukan nyamuk,
kesenangan nyamuk menggigit, kesenangan nyamuk istirahat, lama hidup dan jarak
terbang.
B. Saran
Kegiatan pemberantasan nyamuk aedes
aegypti yang dapat dilaksanakan dengan cara fogging, repelen, dan teknik
serangga mandul .
Adapun cara lainnya yaitu dengan 3M
, Menguras , Menutup , Mengubur.
DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:
Posting Komentar